Senin, 18 Mei 2009

Tarian Genit Politikus Kita

Pemilu Eksekutif kini didepan mata, sebuah proses demokrasi parlementarisme yang mampu menghipnotis pikiran jutaan rakyat indonesia, mengarahkan pikiran mereka untuk menjadi bagian dari proses tersebut. para elit politik tiba-tiba menjadi orang yang sangat merakyat, sangat demokratis, dan berbagai tingkah laku yang seolah-olah mencerminkan bahwa mereka adalah politikus yang baik.

rakyat indonesia seakan-akan melupakan rekam jejak perjalanan politik mereka, menghapus tingkah masa lalu politikus tersebut dari memori mereka. sebuah ilusi demokrasi parelementarisme yang telah berjaya menutup mata hati rakyat marjinal.

tapi, itulah tingkah elit-elit kita, saat mereka butuh suara rakyat, mereka mengubah diri bak manusia tanpa cela, tapi saat mereka berkuasa, mereka tidak ingat suara rakyat yang membuat mereka naik. bahkan ketika rakyat bersuara atas ketidakadilan yang mereka rasakan, mereka menutup rapat telinganya.

sebuah kegenitan elit yang telah mengilusi mata hati rakyat indonesia

Selasa, 30 Desember 2008

Pemberdayaan Perempuan dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan

Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki - inilah anggapan umum yang berlaku sekarang ini tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermin dalam prasangka-prasangka umum, seperti "seorang istri harus melayani suami", dll. Prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek-moyang kita, keadaannya memang sudah begini.

Keharusan manusia untuk menemukan cara-cara baru untuk mempertahankan hidupnya membuat perkembangan teknologi berlangsung dengan pesat di tengah masyarakat pertanian, jika dibandingkan dengan perkembangan teknologi dalam masa-masa sebelumnya. Dengan perkembangan teknologi ini, apa yang tadinya hanya dapat dikerjakan bersama-sama (komunal) kini dapat dikerjakan secara sendirian (individual). Proses untuk menghasilkan sumber penghidupan kini berangsur-angsur berubah dari proses bersama (komunal) menjadi proses sendirian (individual).


Sekalipun berlangsung berangsur-angsur selama ratusan tahun, pada satu titik, perubahan-perubahan kecil ini menghasilkan lompatan besar pada kehidupan manusia. Terlebih lagi setelah pertanian diperkenalkan, terjadi perubahan penting mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan :

Pertama, pertanian pada awalnya membutuhkan banyak tenaga untuk membuka lahan karena tingkat teknologi yang rendah. Hanya dari proses ekstensifikasi (perluasan lahan)-lah pertambahan hasil dapat diperoleh. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi pertanian, peran perempuan ikut terpinggirkan dimana jika selama ini perempuan turut dalam proses pengolahan hasil pertanian dengan ikut ke sawah atau ke kebun, namun kemudian perempuan hanya tinggal dirumah menanti hasil kebun atau sawah dating ke rumah. Kalaupun terlibat hanya sebagian kecil saja dari proses produksi pertanian tersebut.

Dan sebagai akibat logis dari keadaan ini kaum perempuan semakin tersingkir dari proses produktif di tengah masyarakat. Waktunya semakin lama semakin terserap ke dalam kegiatan-kegiatan reproduktif (melayani suami dan mengasuh anak-anak).

Kedua, teknologi pertanian yang maju semakin pesat ini ternyata malah membuat aktivitas produksi di sektor pertanian menjadi semakin tertutup buat perempuan. Penemuan arkeologi menunjukkan bahwa ditemukannya bajak (luku) telah menggusur kaum perempuan dari lapangan ekonomi. Bajak merupakan alat pertanian yang berat, yang tidak mungkin dikendalikan oleh perempuan. Terlebih lagi bajak biasanya ditarik dengan menggunakan tenaga hewan ternak, di mana pengendalian terhadap ternak memang merupakan wilayah ketrampilan kaum laki-laki. Intrusi (mendesak masuknya) peternakan ke dalam pertanian telah membuat ruang bagi kaum perempuan, yang keahliannya hanya dalam bidang pertanian, semakin tertutup.

Ketiga, Tingkat pendidikan perempuan yang rata-rata sangat rendah sebagai akibat budaya masyarakat – terutama di pedesaan - yang menganggap bahwa “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena ujung-ujungnya akan kembali juga ke dapur” menjadikan rata-rata perempuan tidak memiliki skill dan pengetahuan yang lebih disbanding laki-laki.

Karena perempuan semakin tidak mampu bergiat dalam lapangan produksi, maka iapun semakin tergeser ke pekerjaan-pekerjaan domestik (rumah tangga). Dan ketika perempuan telah semakin terdesak ke lapangan domestik inilah perempaun semakin terpinggirkan dalam perannya dalam peningkatan kesejahteraan keluarga.

Untuk mengembangkan potensi yang dimiliki perempuan tersebut, maka diperlukan sebuah model peningkatan sumber daya perempuan yang nantinya diharapkan akan mendorong perempuan untuk mampu mengambil peran dan posisi strategis dalam keluarga dan dalam lingkungan sosialnya.

Kita semua tentunya sepakat bahwa Perempuan memiliki Peran yang sangat penting dalam keluarga. Hanya saja saat ini rata-rata perempuan tidak mampu untuk mengambil peran penting tersebut sehingga yang terjadi dalam masyarakat kita, perempuan hanya “mampu” mengurus dapur tapi tidak mampu untuk mencari tambahan untuk dapurnya. Disisi lain Tingkat pendidikan perempuan yang rata-rata sangat rendah sebagai akibat budaya masyarakat terutama di pedesaan - yang menganggap bahwa “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena ujung-ujungnya akan kembali juga ke dapur” menjadikan rata-rata perempuan tidak memiliki skill dan pengetahuan yang lebih dibanding laki-laki.

Untuk itu, maka perempuan haruslah mampu memberdayakan dirinya sehingga dapat mengambil peranan dalam keluarga terutama untuk meningkatkan taraf kesejahteraan keluarganya.

Keberadaan perempuan sangatlah menentukan keberlangsungan kehidupan suatu kaum/bangsa. Disisi lain, perempuan sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar dalam upaya mendorong peningkatan taraf hidup keluarganya sekaligus peningkatan kondisi sosial lingkungannya. Potensi perempuan yang kemudian karena perkembangan zaman menjadi terkungkung dan terpinggirkan inilah yang harus didorong untuk ditumbuhkembangkan sebagai sebuah potensi dalam perkembangan kehidupan sosial masyarakat.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, maka sebagai kesimpulan dari pembahasan ini adalah :

1. Perempuan harus berfikir maju, dengan mengubah pemikiran bahwa hanya laki-laki yang bertugas mencari nafkah keluarga, dengan memposisikan diri sebagai bagian dari upaya menggerakkan dan meningkatkan kesejahteraan /ekonomi keluarga.

2. Perempuan harus mengambil posisi strategis dalam kegiatan sosial kemasyarakatn dengan terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

D i s i n i

Disini

Untuk kebahagiaan
Kau tawarkan tahta
Untuk aku miliki
Puaskan hasratku
Dan dudukkan aku
Dalam singgasana kesenangan

Untuk kebahagiaan
Kau berikan istana
Untuk aku miliki
Dan jejakkan kakikku
Dalam samudera biru

Tapi aku tolak
Sebab terik matahari dan debu jalanan
Masih terlalu indah buatku
Sebab dingin angin malam
Danm lapar yang melilit perut
Yang kulalui bersama kawan-kawanku
Masih terlalu nikmat buatku
Sebab bara revolusi
Selalu menghangatkan jiwaku

22juni00

Petikan Rasa

Petikan Rasa


Damai saat kau telesupkan makna dalam hatiku

Serasa rinai hujan dipenghujung kemarau yang kunanti


Damai saat kita bergenggaman tangan penuh kasih

Seakan seribu taman firdaus kita rengkuh dalam genggaman


Getar rasa mengalun dalam melodi sarat warna

Bersama bisikan kata cinta dan harapan


Desah lirih kita ucap janji, bak kepakan lembut sayap angsa putih

Percikkan air asa sebening embun

Belaian cahaya alam taburkan berjuta warna


Dama saat kita terytawa dalam canda yang warnai kebersamaan kita

Seperti bahagia yang menyatu dalam curah lembut salju abadi


Birunya langit, birunya harapan, birunya angan

Akankah nyata dan abadi

Atau Cuma angan semu yang hinggap dalam sesaat

Tersenyumlah edelweisku…

Tersenyumlah edelweisku…


Alam tak’kan berkabut selamanya

Selama mentari tetap terbit diufuk timur

Dan rembulan tetap bersinar dalam kebisuan


Jiwa ini selalu ingin teriak

Tapi kata tak kunjung terucap

Dan kata yang terangkai ini

Adalah teriakan bisu yang abadi


Biarkan kabut berlalu

Dalam bisu lembah hijau

Jiwa akan selalu hidup

Tuk temani kau selamanya

Dalam bisu tak bertepi


Tak perlu berkata pada langit

Bahwa bumilah yang selalu menopangnya

Dan tak perlu berkata pada bumi

Bahwa langitlah yang selalu menaunginya


Tiap alur nafas ini

Dalam jiwa yang tersisa

Dalam tepi gelap yang diam

S’lalu untuk dirimu


Edelweisku…

Kaulah nafas dalam nadiku

Jiwa ini tak’kan pernah kososng

S’lalu terangkai kata tuk’ bangun

Jiwa baru yang tumbuh s’lalu

Bersama musim semi yang tiada akhir


Maka tersenyumlah edelweisku

Meski dalam bisu

Meski dalam sepi


01jan00

Katakan

Katakan


Lihatlah mereka yang sedang berjuang

Katakan kau salut pada mereka

Atau bangunlah makam untuk dirimu

Dan katakan kau telah merdeka


Bakarlah buku-buku sejarah

Katakan itu sebagai pembodohan

Atau ucapkan salah buat hitler

Dan katakan dia memang benar


Bangunlah istana dihatimu

Katakan kau adalah nabi

Atau tunduklah pada alam

Dan katakan kau adalah pengecut

Sepi, Hampa, Malam

Sepi, Hampa, Malam


Terhenyak aku dalam nestapa

Sisi jurang kehancuran yang menganga

Mengalun suara alam

Terbungkus nyanyian kematian

Tersadar aku dalam lamunan

Aku sendiri

Aku hampa

Debur buih memecah pantai

Menggapai harapan, bebaskan diri

Lepas, hilang

Gelombang yang tak perna surut

Menebar buih mengikis karang

Menantang alam tuk jemput kebebasan

Meski diri hampa

Dalam sepi, dalam malam

Dalam jiwa yang hampa

Aku sendiri

Jiwa yang tertindas ini tak’kan dian

Sebab diam adalah penghianatan

Dan pasrah adalah kesombongan


Maka teruslah berdebur gelombang pantai

Teruslah mengalunkan nyanyian

Meski aku sendiri

Meski aku hampa

Dimalam yang mengurai

Masa depan, obsesi dan masa lalu


18nop99, malam yang membosankan

Kemarin Yang Tak Pernah Kembali

Kemarin Yang Tak Pernah Kembali


Berputarlah sang waktu yang berputar

Yang mengubah peradaban

Yang menguak borok kemunafikan

Dari satu sisi kebenaran

Lalu peradaban yang terlupakan mengemis

Dan hegel pun tertawa

Ketika akal terlupakan

Dan manusia melangkah

Dalam jejak palsu

Sambil berfikir tentang kejadian kemarin

Bersama keinginan sang keangkuhan

Tuk memutar roda zaman

Kembali

Yang telah berlalu

Kembali

Berputarlah sang waktu yang berputar

Hari esokpun menyambut dengan senyum

Bersama harapan dan kemunafikan

Dan senyum hegel yang terlupakan


20nop99

Stagnasi

Stagnasi


Lihatlah bulan yang mengintip diheningnya malam

Bersama keluguan suatu mahakarya

Ataupun embun yang berkilauan

Disejuknya pagi

Inilah jiwa-jiwa

Yang mengakar dalam sucinya bumi

Bersama gerahnya ideologi kemunafikan

Pemikiran-pemikiran pragmatis

Berhala intelektual

Dalam perbudakan

Ataupun pemikiran-pemikiran skeptis


Terbanglah yang tinggi burung intelektual

Terbanglah membawa nurani

Sebab perbudakan bukan untuk dirimu

Batu yang keras itu tidaklah selamanya

Hidup bukan untuk dirimu

Namun kau tak’kan pernah mati

Keangkuhan

Keangkuhan

Menatap nanar masa lalu
Terpaku jiwa, melayang hayal
Terhembus nafas yang tersisa
Kenyataan demi kenyataan
Membuatku terjungkal, terpana, terhenyak
Dalam kenyataan
Kehidupan

Terhampar reruntuhan dipelosok bumi
Tinggal dalam sunyi, sepi, senyap
Apakah ini balasan dari kenyataan
Gemilangnya peradaban masa lalu
Yang terganti dengan lembar sejarah baru
Tanpa akar, tanpa bentuk, tanpa jiwa
Dalam hati sang mahluk
Tuk’ mengukir sejarah baru dalam peradaban baru
Atau Cuma untuk dikenang
Dalam sejarah yang tak nyata

Inikah yang namanya kesombongan
Atau pelampiasan dari ketiadaan bentuk
Dari masa depan yang terlampaui
Dan peradaban yang tak’kan pernah abadi
Didalam tinta emas buku-buku usang
Sisa peradaban
Yang berlalu bak sinar surya
Yang tenggelam dalam gelap gulita
Keangkuhan manusia
Mengorbankan masa lalu demi masa depan
Yang akan dilalui

Nyata dalam kenyataan
Egoisme jiwa dan pelampiasan rasa
Dari jiwa yang merana dan kosong
Dalam jiwa yang munafik
Jiwa yang t’lah teracuni obsesi
Menapik masa lalu
Dalam kesombongan masa depan
Nyata dalam kenyataan

10okt99